Senin, 04 November 2013

FRIEDRICH FROEBEL

FRIEDRICH FROEBEL (1782-1852) memiliki perhatian besar pada pendidikan, 
terutama anak-anak usia dini.

Froebel percaya sungguh bahwa dalam inti jiwa setiap manusia terdapat spiritualitas. Setiap anak mewariskan suatu kualitas spiritual, suatu kekuatan yang menunggu untuk diolah.

Menurut Froebel, seorang guru haruslah memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan anak, jangan terfokus pada tugas-tugas melulu.

"Anak-anak ibarat seperti bunga-bunga yang sedang tumbuh,
mereka bermacam-macam jenisnya dan membutuhkan perawatan.

Guru adalah ibarat sang juru taman yang selalu menjaganya...
Menyirami, memupuk agar bunga tumbuh sesuai karakternya,
Menyiangi rumput yang mengganggu pertumbuhannya,

Sang juru tamanpun tak kuasa mengubah takdir hidupnya,
Biarlah bunga melati akan menjadi melati yang baik,
demikian juga mawar akan menjadi mawar yang semestinya

Tidaklah mungkin bunga melati akan dijadikan bunga mawar dan sebaliknya..

Keindahan yang warna-warni itulah harmoni dalam sebuah taman.

THOMAS AQUINAS

THOMAS AQUINAS (1225-1274) adalah seorang cendekiawan yang menyadari sepenuhnya bahwa di atas segala intelektualitas manusia, Tuhan tetaplah Sang Mahakuasa.

Aquinas menggunakan secara selaras, baik iman maupun akal budi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai alam, semesta maupun Tuhan.

Dalam bukunya DE MAGISTRO (Mengenai Guru), Aquinas menggambarkan bhw menjadi guru sebagai panggilan yang menyelaraskan iman, cinta dan pemahaman kemanusiaan.

Ia menekankan pentingnya setiap guru mampu merenung untuk mencari makna terdalam terhadap apa yang di ajarkan di kelas.

Menurutnya, 3 hal penting demi keselamatan jiwa seseorang, bahwa
ia tahu apa yang ia yakini (percaya),
ia tahu apa yang ia inginkan dan
ia tahu apa yang harus ia lakukan

ARISTOTELES

ARISTOTELES (384-322 SM), adalah murid Plato, namun cara berpikirnya berkebalikan dengan gurunya.
Aristoteles lebih memusatkan perhatiannya pada fakta alamiah, daripada merefleksi tentang nilai-nilai yang abstrak.

Aristoteles adalah guru yang peka pada lingkungan, mempunyai mata yang jeli dan gemar mencatat perubahan di sekitarnya. Ia percaya bahwa kehidupan mengajarkan banyak hal.

Dengan melihat perubahan di alam, manusia bisa mengetahui sebab-sebab datangnya suatu peristiwa.
Dari sinilah NALAR MANUSIA TERBENTUK.
Aristoteles percaya masyarakat yg baik adalah masyarakat yang berakal sehat, yg selalu mencari fakta dan menyusunnya menjadi suatu pemikiran.

"Mereka yang tahu, MELAKUKAN,... mereka yang mengerti MENGAJARKAN"

"Tanda yang sangat jelas dari pengetahuan seseorang ditampakkan dalam kekuatannya dalam mengajar"

"Akar pendidikan terasa pahit, tetapi buahnya manis"

(Teacher's Wisdom, p.17-18)